Marissa,
remaja 13 tahun yang duduk di bangku kelas satu SMP. Enam bulan yang
lalu, saat tahun ajaran baru orang tua marissa memasukkan Marissa ke
SMP Negeri. Sedangkan teman-temannya masuk ke sekolah Madrasah.
Marissa heran kenapa dia dimasukkan ke SMP, karena dia paham kalau
orang tuanya punya landasan agama yang kuat. Rasa ingin tahunya yang
kuat, Marissa menanyakan pada Uminya kenapa ia dimasukkan ke SMP.
“Umi, kenapa aku masuk SMP? Sedangkan teman-teman aku masuk
Madrasah,” Tanya Marissa. “ Umi bukan ga mau menyekolahkan kamu
di Madrasah, tapi Umi tidak suka melihat kebanyakan anak-anak
putrinya yang masih tidak pakai jilbab dalam kesehariannya. Ke
sekolah pakai jilbab, sekolah selesai jilbabnya dilepas. Umi takut
nanti kamu akan terpengaruh seperti itu,” Jawab sang Umi. Marissa
mengangguk dan mengiyakan, memang seperti itu kenyataan yang ia lihat
selama ini. Akan tetapi, yang Marissa tahu bahwa remaja putri di SMP
umumnya juga tidak menggunakan jilbab. Enam bulan duduk di SMP,
Marissa sudah mendapat Haid pertama kali. Marissa memberi tahu
Uminya, beliau mengatakan kalau Marissa sudah baligh, jadi sudah
wajib pakai jilbab. Marissa menggunakan jilbab sesuka hatinya. Saat
itu, Marissa disuruh Uminya belanja ke pasar, tiba-tiba Umi memanggil
Marissa dengan nada yang agak kuat. “Jilbabnya mana? Ayo jilbabnya
dipakai,” sahut Umi. Marissa kesal dengan perintah Uminya. “Kan
pasarnya deket,” gerutu Marissa. Beberapa ibu-ibu yang jualan heran
melihat Marissa. Dia tidak percaya diri dilihat seperti itu karena
Marissa biasanya tidak pakai jilbab. Bahkan ada ibu-ibu yang
mengatakan kalau Marissa anak pesantren, Marissa makin kesal dengan
perkataan itu. Saat di sekolah, teman-temannya pun ikut heran dengan
perubahan Marissa. Akan tetapi, lama-kelamaan Marissa sudah biasa
menggunakan jilbab dan teman-temannya juga sudah terbiasa dengan
penampilan Marissa yang “baru”. Ternyata ujiannya bagi Marissa
belum berhenti. Di sekolah, Marissa ditunjuk untuk ikut dalam tari
selamat datang untuk
menyambut bupati dalam acara yang diadakan oleh pemerintah kabupaten.
Latihan sudah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya. Satu minggu
sebelum hari H, pelatih dan guru Marissa memberi instruksi kepada
semua anggota tari. Saat itu Marissa menanyakan kepada guru dan
pelatih tentang kostum yang akan dipakai. Guru Marissa mengatakan
bahwa kostumnya nanti diberi oleh pihak kabupaten dan nantinya akan
pakai konde. Guru Marissa juga mengatakan kepada Marissa untuk tidak
memakai jilbab. Marissa kaget dengan perkataan gurunya tersebut,
karena dia sudah terbiasa menggunakan jilbab. Marissa meminta waktu
kepada gurunya untuk berpikir mengenai hal itu. Marissa curhat
kepada Umi dengan masalah yang ia hadapi. Umi menyarankan Marissa
untuk berdoa kepada Allah meminta yang terbaik, saran dari Umi cukup
menenangkan hati Marissa. Tiga hari menjelang tampil, guru dan
pelatih mengatakan tim Marissa tidak jadi tampil karena pihak
kabupaten sudah meminta dari sanggar tari lain untuk tampil. Marissa
dan teman-temannya kecewa karena sudah latihan dengan keras tetapi
tidak jadi tampil. Akan tetapi terbesit rasa senang di hati Marissa,
“Inilah yang terbaik diberikan oleh Allah buat aku.” Saat acara
perpisahan kelas tiga Marissa ditunjuk lagi untuk berpartisipasi
dalam tari penyambutan tamu, akhirnya Marissa dan teman-temannya
tampil menggunakan jilbab.
(Created By Muthi)

