Sabtu, 13 April 2013
Strategi masuk Ivy League
Got a good article!!
Artikel ini saya baca dari seorang teman di facebook, sangat inspiratif. Pemilik artikel dengan senang hati mau berbagi tulisan ini kepada siapa saja. Akhirnya, artikel ini saya post di blog saya, supaya bisa dibaca dan dishare juga, sehingga bisa memotivasi para readers :)
Ok, check this out :)
Bagi teman-teman sekalian yang punya rencana melanjutkan studi ke luar negeri, mudah-mudahan info berikut ini berguna. Kebetulan memang bulan-bulan pertengahan tahun seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk mengurus aplikasi sekolah.
Sebelumnya saya ingin berbagi cerita sedikit. Di Harvard Law School (program LL.M.) tahun lalu, ada 5 siswa dari negara Singapura yang hanya memiliki populasi penduduk 5 juta, 7 siswa dari negara Brazil yang memiliki populasi 200 juta, dan hanya 1 siswa dari negara Indonesia yang memiliki populasi 240 juta. Bahkan dari negara Yunani yang bangkrut masih ada 3 siswa yang diterima. Sejauh pengetahuan saya yaitu selama kurang lebih 5 tahun terakhir, setiap tahun hanya ada 1 orang Indonesia yang diterima. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apa sebabnya hanya sedikit orang Indonesia yang masuk setiap tahun, padahal negara kita adalah negara dengan sumber daya manusia yang sangat banyak dan termasuk “emerging economy” yang keberadaan strategisnya di dunia patut diperhitungkan. Tentu bukan karena “otaknya ngga nyampe”, karena saya mengetahui bahwa banyak sekali pelajar dan profesional Indonesia yang cemerlang dan tidak kalah pintar dengan siswa-siswa ivy league yang saya temui.
Suatu hari teman saya dari Argentina, yang memiliki keheranan yang sama dengan saya berhubung setiap tahun hanya ada 1 orang Argentina yang diterima, bertanya kepada salah satu staf yang mengurusi penerimaan murid baru, apakah ada pertimbangan tertentu berdasarkan asal negara seorang kandidat. Jawabannya cukup menarik: mereka tidak pernah menetapkan kuota tertentu berdasarkan besar suatu negara atau keadaan ekonomi/politiknya, namun mereka ada kecenderungan menerima lebih banyak siswa dari suatu negara apabila mereka menerima banyak aplikasi dari negara tersebut. Rupanya, aplikasi yang masuk dari Singapura dan Brazil luar biasa banyaknya. Staf tersebut kemudian berkata: ayo makanya teman-temannya diajak kirim aplikasi.
Jawaban tersebut kalau dipikir-pikir cukup masuk akal. Pertama, pada dasarnya mereka menginginkan kelas dengan keberagaman, dari seluruh pelosok dunia dan berbagai latar belakang profesi serta tujuan karir, agar para siswa mendapatkan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai sudut pandang. Sang dekan sendiri (Dean Martha Minow) menyambut para siswa pada hari pertama dengan ucapan “we searched the world for you”. Hal ini berarti, semua negara penting untuk dipertimbangkan, dan tidak mungkin mereka akan lebih mengutamakan siswa dari negara-negara tertentu saja, misalnya negara yang sudah maju atau dari negara-negara berbahasa Inggris. Kedua, negara yang mengirim lebih banyak aplikasi akan memberi tim pemeriksa aplikasi lebih banyak pilihan. Ketika ikan yang masuk kolam lebih banyak, ikan yang bisa tertangkap juga akan lebih banyak.
Tentu saja ikan tersebut kemudian harus menarik untuk ditangkap. Disinilah letak kecemasan banyak orang, yang mungkin menjadi alasan mengapa aplikasi yang terkirim ke sana tidak sebanyak beberapa negara lain. Ada yang cemas dengan nilai IPK yang pas-pasan, dengan bahasa Inggris, dengan pengalaman kerja yang kurang, dengan penulisan personal statement, dengan funding, dan sebagainya. Banyak yang merasa bahwa sekolah di universitas ivy league adalah sesuatu yang tidak mungkin. Menurut saya semua kecemasan ini bisa diatasi dengan persiapan yang tepat.
Berikut ini ada beberapa saran yang berdasarkan pengamatan saya mungkin belum banyak dipahami orang:
- Mulailah langkah pertama dengan browsing website universitas-universitas yang dituju. Catat dan pahamilah persyaratan masing-masing universitas, pilihan program yang tersedia di universitas tersebut, dan kandidat seperti apa yang dicari oleh universitas tersebut. Misalnya, Yale cenderung mencari akademisi, NYU memiliki program human rights yang bagus, Berkeley kuat di bidang IP law dan environmental law, Columbia memiliki program konsentrasi baru di bidang climate change, dan seterusnya. Kesesuaian minat dengan apa yang ditawarkan oleh sekolah tersebut akan memperbesar kemungkinan seorang kandidat akan diterima.
- Mulailah dari jauh hari dengan hal-hal yang akan memerlukan persiapan paling banyak. Kalau kemampuan bahasa Inggris kurang bagus, mulailah mengambil TOEFL-prep. Kalau belum punya tujuan hidup yang jelas, mulailah memikirkan apa yang hendak ditulis dalam personal statement. Ingat bahwa tidak semua universitas memerlukan kandidat dengan pengalaman kerja yang ekstensif. Kalau tidak punya funding, mulailah memasukkan aplikasi beasiswa seperti Fulbright, yang biasanya memiliki tanggal deadline di semester awal tahun. Setiap universitas, khususnya universitas yang ternama, juga memiliki dana beasiswa atau student-loan. Do your research and set priorities.
- Semua persyaratan memiliki bobot tertentu, oleh karena itu sebuah aplikasi harus merupakan “paket” yang bagus. Banyak orang yang asal-asalan membuat personal statement karena IPK-nya bagus, atau tidak peduli dengan isi surat rekomendasi karena yang memberi surat rekomendasi adalah orang penting. Tidak ada yang boleh dibuat asal-asalan.
- Personal Statement
Belajarlah dari personal statement alumni yang sudah pernah diterima. Cari referensi personal statement dari www.vault.com. Personal Statement adalah sesuatu yang ditulis secara strategis. Ada gaya dan alur penulisan tertentu dengan pola yang cukup spesifik serta berisi anekdot, yang biasanya efektif. Ingat bahwa mereka mencari orang yang sanggup menjadi pemimpin atau membuat perubahan atau melakukan sesuatu yang berdampak luas dalam bidangnya, karena mereka tentu ingin nama Universitas mereka ikut diharumkan oleh pencapaian orang tersebut. Sesuaikan personal statement dengan Universitas yang dituju dan tunjukkan kompatibilitas kandidat dengan Universitas spesifik tersebut. Jangan membuat personal statement yang generik.
- Surat Rekomendasi
Jangan cari surat rekomendasi dari orang penting hanya karena dia orang penting. Surat rekomendasi wajib berasal dari orang yang benar-benar mengenal sang kandidat, karena mereka ingin mengenal kandidat tersebut, bukan ingin memastikan bahwa kandidat tersebut punya koneksi. Cari dosen atau atasan yang benar-benar mengetahui cara berpikir dan cara kerja kandidat, dan bisa menyelipkan beberapa anekdot yang menarik untuk menggambarkan kesan baik mereka terhadap sang kandidat dengan cara yang personal, ketimbang hanya menuliskan pujian-pujian yang generik.
- TOEFL
Tergantung kemampuan masing-masing, TOEFL harus dipersiapkan dari jauh hari. Kalau kurang pede dengan kemampuan bahasa Inggris, ada banyak tempat yang menawarkan TOEFL-prep. Kalaupun kemampuan bahasa Inggris sang kandidat sudah sangat bagus, tetap harus ada persiapan dan latihan beberapa kali sebelum ujian untuk membiasakan diri dengan format, waktu, dan jenis pertanyaan dalam ujian. Setiap sekolah punya persyaratan TOEFL yang berbeda-beda, pastikan bahwa syarat minimum tersebut terpenuhi.
- IPK
Jangan mangkir apabila nilai IPK pada saat mengenyam S1 jauh dari cum laude. Hal-hal lain juga dipertimbangkan, seperti misalnya rangking di kelas, nilai pelajaran-pelajaran yang spesifik terhadap minat sang kandidat, penerimaan penghargaan mahasiswa berprestasi atau penghargaan dari dekan, atau penghargaan akademis lainnya seperti beasiswa, PMDK, menang pemilihan menjadi ketua organisasi, kompetisi akademis, program exchange student dan sebagainya, publikasi artikel, dan juga kegiatan ekstrakurikuler di kampus.
- Menurut saya pribadi, jangan kirim aplikasi hanya ke satu universitas, karena sayang dan tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang terbuang mempersiapkan aplikasi. Sekalian saja mengirim ke beberapa universitas untuk memperbesar kemungkinan diterima di salah satu sekolah.
Mempersiapkan aplikasi memang tidak mudah, dan membutuhkan sangat banyak waktu disela-sela kesibukan sehari-hari, dan oleh karena itu harus direncanakan dengan baik. Tulisan ini hanya merupakan ulasan secara umum yang tidak terlalu detil. Tentu saja kalau ada yang ingin bertanya lebih lanjut, akan dengan senang hati saya bantu semaksimal mungkin.
Kebanyakan siswa yang diterima di ivy league tidak percaya bahwa mereka bisa diterima, dan ketika menerima surat penerimaan berpikir bahwa surat itu adalah lelucon. Hal ini berarti bahwa keraguan bukanlah alasan untuk tidak mencoba. Yang penting ada keberanian mencoba, dan ada strategi dalam mempersiapkan aplikasi. Semakin banyak orang mencoba, semakin besar kemungkinan lebih banyak orang akan diterima. Semakin banyak orang yang menempuh pendidikan lebih tinggi dan lebih bagus, Insya Allah semakin besar kemungkinan bangsa kita maju.
Seorang teman saya yang tahun ini hendak berangkat ke Harvard baru saja mengirim tweet: “Some people say: democracy among idiots will result in idiotic leaders. It is then our obligation to educate ourselves.”
By : Tiza Mafira
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

5 komentar:
thanks banget, saya pengen masuk ivy league, tp saya masih SMA, apa bisa?
halo @bianca, coba cari info sebanyak-banyaknya ttg beasiswa tsb atau bisa juga beasiswa dr aminef
Artikel nya menarik. Saya dapat melihat pemahaman penulis dalam proses pelamaran universitas di AS.
Sebagai tambahan, tingkat penerimaan di sebuah universitas juga dipengaruhi oleh jenis program/jurusan dan jenjang pendidikan yang dipilih.
Saya juga ada sharing seputar universitas di blog saya (www.catatanrobert.com), silahkan mampir.
Terima kasih.
Maksudnya aplikasi itu, aplikasi apa?
Belum ngerti sama aplikasi-aplikasi an
Posting Komentar