Got a good article!!
Artikel ini saya baca dari seorang teman di facebook, sangat inspiratif. Pemilik artikel dengan senang hati mau berbagi tulisan ini kepada siapa saja. Akhirnya, artikel ini saya post di blog saya, supaya bisa dibaca dan dishare juga, sehingga bisa memotivasi para readers :)
Ok, check this out :)
Bagi teman-teman sekalian yang punya rencana melanjutkan studi
ke luar negeri, mudah-mudahan info berikut ini berguna. Kebetulan
memang bulan-bulan pertengahan tahun seperti ini merupakan waktu yang
tepat untuk mengurus aplikasi sekolah.
Sebelumnya saya
ingin berbagi cerita sedikit. Di Harvard Law School (program LL.M.)
tahun lalu, ada 5 siswa dari negara Singapura yang hanya memiliki
populasi penduduk 5 juta, 7 siswa dari negara Brazil yang memiliki
populasi 200 juta, dan hanya 1 siswa dari negara Indonesia yang memiliki
populasi 240 juta. Bahkan dari negara Yunani yang bangkrut masih ada 3
siswa yang diterima. Sejauh pengetahuan saya yaitu selama kurang lebih 5
tahun terakhir, setiap tahun hanya ada 1 orang Indonesia yang diterima.
Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apa sebabnya hanya sedikit orang
Indonesia yang masuk setiap tahun, padahal negara kita adalah negara
dengan sumber daya manusia yang sangat banyak dan termasuk “emerging
economy” yang keberadaan strategisnya di dunia patut diperhitungkan.
Tentu bukan karena “otaknya ngga nyampe”, karena saya mengetahui bahwa
banyak sekali pelajar dan profesional Indonesia yang cemerlang dan tidak
kalah pintar dengan siswa-siswa ivy league yang saya temui.
Suatu
hari teman saya dari Argentina, yang memiliki keheranan yang sama
dengan saya berhubung setiap tahun hanya ada 1 orang Argentina yang
diterima, bertanya kepada salah satu staf yang mengurusi penerimaan
murid baru, apakah ada pertimbangan tertentu berdasarkan asal negara
seorang kandidat. Jawabannya cukup menarik: mereka tidak pernah
menetapkan kuota tertentu berdasarkan besar suatu negara atau keadaan
ekonomi/politiknya, namun mereka ada kecenderungan menerima lebih banyak
siswa dari suatu negara apabila mereka menerima banyak aplikasi dari
negara tersebut. Rupanya, aplikasi yang masuk dari Singapura dan Brazil
luar biasa banyaknya. Staf tersebut kemudian berkata: ayo makanya
teman-temannya diajak kirim aplikasi.
Jawaban tersebut
kalau dipikir-pikir cukup masuk akal. Pertama, pada dasarnya mereka
menginginkan kelas dengan keberagaman, dari seluruh pelosok dunia dan
berbagai latar belakang profesi serta tujuan karir, agar para siswa
mendapatkan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai sudut pandang.
Sang dekan sendiri (Dean Martha Minow) menyambut para siswa pada hari
pertama dengan ucapan “we searched the world for you”. Hal ini berarti,
semua negara penting untuk dipertimbangkan, dan tidak mungkin mereka
akan lebih mengutamakan siswa dari negara-negara tertentu saja, misalnya
negara yang sudah maju atau dari negara-negara berbahasa Inggris.
Kedua, negara yang mengirim lebih banyak aplikasi akan memberi tim
pemeriksa aplikasi lebih banyak pilihan. Ketika ikan yang masuk kolam
lebih banyak, ikan yang bisa tertangkap juga akan lebih banyak.
Tentu
saja ikan tersebut kemudian harus menarik untuk ditangkap. Disinilah
letak kecemasan banyak orang, yang mungkin menjadi alasan mengapa
aplikasi yang terkirim ke sana tidak sebanyak beberapa negara lain.
Ada yang cemas dengan nilai IPK yang pas-pasan, dengan bahasa Inggris,
dengan pengalaman kerja yang kurang, dengan penulisan personal
statement, dengan funding, dan sebagainya. Banyak yang merasa bahwa
sekolah di universitas ivy league adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Menurut saya semua kecemasan ini bisa diatasi dengan persiapan yang
tepat.
Berikut ini ada beberapa saran yang berdasarkan pengamatan saya mungkin belum banyak dipahami orang:
-
Mulailah langkah pertama dengan browsing website
universitas-universitas yang dituju. Catat dan pahamilah persyaratan
masing-masing universitas, pilihan program yang tersedia di universitas
tersebut, dan kandidat seperti apa yang dicari oleh universitas
tersebut. Misalnya, Yale cenderung mencari akademisi, NYU memiliki
program human rights yang bagus, Berkeley kuat di bidang IP law dan
environmental law, Columbia memiliki program konsentrasi baru di bidang
climate change, dan seterusnya. Kesesuaian minat dengan apa yang
ditawarkan oleh sekolah tersebut akan memperbesar kemungkinan seorang
kandidat akan diterima.
- Mulailah dari jauh hari dengan
hal-hal yang akan memerlukan persiapan paling banyak. Kalau kemampuan
bahasa Inggris kurang bagus, mulailah mengambil TOEFL-prep. Kalau belum
punya tujuan hidup yang jelas, mulailah memikirkan apa yang hendak
ditulis dalam personal statement. Ingat bahwa tidak semua universitas
memerlukan kandidat dengan pengalaman kerja yang ekstensif. Kalau tidak
punya funding, mulailah memasukkan aplikasi beasiswa seperti Fulbright,
yang biasanya memiliki tanggal deadline di semester awal tahun. Setiap
universitas, khususnya universitas yang ternama, juga memiliki dana
beasiswa atau student-loan. Do your research and set priorities.
-
Semua persyaratan memiliki bobot tertentu, oleh karena itu sebuah
aplikasi harus merupakan “paket” yang bagus. Banyak orang yang
asal-asalan membuat personal statement karena IPK-nya bagus, atau tidak
peduli dengan isi surat rekomendasi karena yang memberi surat
rekomendasi adalah orang penting. Tidak ada yang boleh dibuat
asal-asalan.
- Personal Statement
Belajarlah dari personal statement alumni yang sudah pernah diterima. Cari referensi personal statement dari
www.vault.com.
Personal Statement adalah sesuatu yang ditulis secara strategis. Ada
gaya dan alur penulisan tertentu dengan pola yang cukup spesifik serta
berisi anekdot, yang biasanya efektif. Ingat bahwa mereka mencari orang
yang sanggup menjadi pemimpin atau membuat perubahan atau melakukan
sesuatu yang berdampak luas dalam bidangnya, karena mereka tentu ingin
nama Universitas mereka ikut diharumkan oleh pencapaian orang tersebut.
Sesuaikan personal statement dengan Universitas yang dituju dan
tunjukkan kompatibilitas kandidat dengan Universitas spesifik tersebut.
Jangan membuat personal statement yang generik.
- Surat Rekomendasi
Jangan
cari surat rekomendasi dari orang penting hanya karena dia orang
penting. Surat rekomendasi wajib berasal dari orang yang benar-benar
mengenal sang kandidat, karena mereka ingin mengenal kandidat tersebut,
bukan ingin memastikan bahwa kandidat tersebut punya koneksi. Cari dosen
atau atasan yang benar-benar mengetahui cara berpikir dan cara kerja
kandidat, dan bisa menyelipkan beberapa anekdot yang menarik untuk
menggambarkan kesan baik mereka terhadap sang kandidat dengan cara yang
personal, ketimbang hanya menuliskan pujian-pujian yang generik.
- TOEFL
Tergantung
kemampuan masing-masing, TOEFL harus dipersiapkan dari jauh hari.
Kalau kurang pede dengan kemampuan bahasa Inggris, ada banyak tempat
yang menawarkan TOEFL-prep. Kalaupun kemampuan bahasa Inggris sang
kandidat sudah sangat bagus, tetap harus ada persiapan dan latihan
beberapa kali sebelum ujian untuk membiasakan diri dengan format, waktu,
dan jenis pertanyaan dalam ujian. Setiap sekolah punya persyaratan
TOEFL yang berbeda-beda, pastikan bahwa syarat minimum tersebut
terpenuhi.
- IPK
Jangan mangkir apabila nilai IPK
pada saat mengenyam S1 jauh dari cum laude. Hal-hal lain juga
dipertimbangkan, seperti misalnya rangking di kelas, nilai
pelajaran-pelajaran yang spesifik terhadap minat sang kandidat,
penerimaan penghargaan mahasiswa berprestasi atau penghargaan dari
dekan, atau penghargaan akademis lainnya seperti beasiswa, PMDK, menang
pemilihan menjadi ketua organisasi, kompetisi akademis, program exchange
student dan sebagainya, publikasi artikel, dan juga kegiatan
ekstrakurikuler di kampus.
- Menurut saya pribadi, jangan
kirim aplikasi hanya ke satu universitas, karena sayang dan tidak
sebanding dengan tenaga dan waktu yang terbuang mempersiapkan aplikasi.
Sekalian saja mengirim ke beberapa universitas untuk memperbesar
kemungkinan diterima di salah satu sekolah.
Mempersiapkan
aplikasi memang tidak mudah, dan membutuhkan sangat banyak waktu
disela-sela kesibukan sehari-hari, dan oleh karena itu harus
direncanakan dengan baik. Tulisan ini hanya merupakan ulasan secara umum
yang tidak terlalu detil. Tentu saja kalau ada yang ingin bertanya
lebih lanjut, akan dengan senang hati saya bantu semaksimal mungkin.
Kebanyakan
siswa yang diterima di ivy league tidak percaya bahwa mereka bisa
diterima, dan ketika menerima surat penerimaan berpikir bahwa surat itu
adalah lelucon. Hal ini berarti bahwa keraguan bukanlah alasan untuk
tidak mencoba. Yang penting ada keberanian mencoba, dan ada strategi
dalam mempersiapkan aplikasi. Semakin banyak orang mencoba, semakin
besar kemungkinan lebih banyak orang akan diterima. Semakin banyak
orang yang menempuh pendidikan lebih tinggi dan lebih bagus, Insya Allah
semakin besar kemungkinan bangsa kita maju.
Seorang teman
saya yang tahun ini hendak berangkat ke Harvard baru saja mengirim
tweet: “Some people say: democracy among idiots will result in idiotic
leaders. It is then our obligation to educate ourselves.”
By : Tiza Mafira