RSS

Sabtu, 13 April 2013

Strategi masuk Ivy League


Got a good article!!
Artikel ini saya baca dari seorang teman di facebook, sangat inspiratif. Pemilik artikel dengan senang hati mau berbagi tulisan ini kepada siapa saja. Akhirnya, artikel ini saya post di blog saya, supaya bisa dibaca dan dishare juga, sehingga bisa memotivasi para readers :)
Ok, check this out :)

Bagi teman-teman sekalian yang punya rencana melanjutkan studi ke luar negeri, mudah-mudahan info berikut ini berguna. Kebetulan memang bulan-bulan pertengahan tahun seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk mengurus aplikasi sekolah.

Sebelumnya saya ingin berbagi cerita sedikit. Di Harvard Law School (program LL.M.) tahun lalu, ada 5 siswa dari negara Singapura yang hanya memiliki populasi penduduk 5 juta, 7 siswa dari negara Brazil yang memiliki populasi 200 juta, dan hanya 1 siswa dari negara Indonesia yang memiliki populasi 240 juta. Bahkan dari negara Yunani yang bangkrut masih ada 3 siswa yang diterima. Sejauh pengetahuan saya yaitu selama kurang lebih 5 tahun terakhir, setiap tahun hanya ada 1 orang Indonesia yang diterima. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apa sebabnya hanya sedikit orang Indonesia yang masuk setiap tahun, padahal negara kita adalah negara dengan sumber daya manusia yang sangat banyak dan termasuk “emerging economy” yang keberadaan strategisnya di dunia patut diperhitungkan. Tentu bukan karena “otaknya ngga nyampe”, karena saya mengetahui bahwa banyak sekali pelajar dan profesional Indonesia yang cemerlang dan tidak kalah pintar dengan siswa-siswa ivy league yang saya temui.

Suatu hari teman saya dari Argentina, yang memiliki keheranan yang sama dengan saya berhubung setiap tahun hanya ada 1 orang Argentina yang diterima, bertanya kepada salah satu staf yang mengurusi penerimaan murid baru, apakah ada pertimbangan tertentu berdasarkan asal negara seorang kandidat. Jawabannya cukup menarik: mereka tidak pernah menetapkan kuota tertentu berdasarkan besar suatu negara atau keadaan ekonomi/politiknya, namun mereka ada kecenderungan menerima lebih banyak siswa dari suatu negara apabila mereka menerima banyak aplikasi dari negara tersebut. Rupanya, aplikasi yang masuk dari Singapura dan Brazil luar biasa banyaknya. Staf tersebut kemudian berkata: ayo makanya teman-temannya diajak kirim aplikasi.

Jawaban tersebut kalau dipikir-pikir cukup masuk akal. Pertama, pada dasarnya mereka menginginkan kelas dengan keberagaman, dari seluruh pelosok dunia dan berbagai latar belakang profesi serta tujuan karir, agar para siswa mendapatkan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai sudut pandang. Sang dekan sendiri (Dean Martha Minow) menyambut para siswa pada hari pertama dengan ucapan “we searched the world for you”. Hal ini berarti, semua negara penting untuk dipertimbangkan, dan tidak mungkin mereka akan lebih mengutamakan siswa dari negara-negara tertentu saja, misalnya negara yang sudah maju atau dari negara-negara berbahasa Inggris. Kedua, negara yang mengirim lebih banyak aplikasi akan memberi tim pemeriksa aplikasi lebih banyak pilihan. Ketika ikan yang masuk kolam lebih banyak, ikan yang bisa tertangkap juga akan lebih banyak.

Tentu saja ikan tersebut kemudian harus menarik untuk ditangkap. Disinilah letak kecemasan banyak orang, yang mungkin menjadi alasan mengapa aplikasi yang terkirim ke sana tidak sebanyak beberapa negara lain. Ada yang cemas dengan nilai IPK yang pas-pasan, dengan bahasa Inggris, dengan pengalaman kerja yang kurang, dengan penulisan personal statement, dengan funding, dan sebagainya. Banyak yang merasa bahwa sekolah di universitas ivy league adalah sesuatu yang tidak mungkin. Menurut saya semua kecemasan ini bisa diatasi dengan persiapan yang tepat.

Berikut ini ada beberapa saran yang berdasarkan pengamatan saya mungkin belum banyak dipahami orang:

- Mulailah langkah pertama dengan browsing website universitas-universitas yang dituju. Catat dan pahamilah persyaratan masing-masing universitas, pilihan program yang tersedia di universitas tersebut, dan kandidat seperti apa yang dicari oleh universitas tersebut. Misalnya, Yale cenderung mencari akademisi, NYU memiliki program human rights yang bagus, Berkeley kuat di bidang IP law dan environmental law, Columbia memiliki program konsentrasi baru di bidang climate change, dan seterusnya. Kesesuaian minat dengan apa yang ditawarkan oleh sekolah tersebut akan memperbesar kemungkinan seorang kandidat akan diterima.

- Mulailah dari jauh hari dengan hal-hal yang akan memerlukan persiapan paling banyak. Kalau kemampuan bahasa Inggris kurang bagus, mulailah mengambil TOEFL-prep. Kalau belum punya tujuan hidup yang jelas, mulailah memikirkan apa yang hendak ditulis dalam personal statement. Ingat bahwa tidak semua universitas memerlukan kandidat dengan pengalaman kerja yang ekstensif. Kalau tidak punya funding, mulailah memasukkan aplikasi beasiswa seperti Fulbright, yang biasanya memiliki tanggal deadline di semester awal tahun. Setiap universitas, khususnya universitas yang ternama, juga memiliki dana beasiswa atau student-loan. Do your research and set priorities.

- Semua persyaratan memiliki bobot tertentu, oleh karena itu sebuah aplikasi harus merupakan “paket” yang bagus. Banyak orang yang asal-asalan membuat personal statement karena IPK-nya bagus, atau tidak peduli dengan isi surat rekomendasi karena yang memberi surat rekomendasi adalah orang penting. Tidak ada yang boleh dibuat asal-asalan.

- Personal Statement
Belajarlah dari personal statement alumni yang sudah pernah diterima. Cari referensi personal statement dari www.vault.com. Personal Statement adalah sesuatu yang ditulis secara strategis. Ada gaya dan alur penulisan tertentu dengan pola yang cukup spesifik serta berisi anekdot, yang biasanya efektif. Ingat bahwa mereka mencari orang yang sanggup menjadi pemimpin atau membuat perubahan atau melakukan sesuatu yang berdampak luas dalam bidangnya, karena mereka tentu ingin nama Universitas mereka ikut diharumkan oleh pencapaian orang tersebut. Sesuaikan personal statement dengan Universitas yang dituju dan tunjukkan kompatibilitas kandidat dengan Universitas spesifik tersebut. Jangan membuat personal statement yang generik.

- Surat Rekomendasi
Jangan cari surat rekomendasi dari orang penting hanya karena dia orang penting. Surat rekomendasi wajib berasal dari orang yang benar-benar mengenal sang kandidat, karena mereka ingin mengenal kandidat tersebut, bukan ingin memastikan bahwa kandidat tersebut punya koneksi. Cari dosen atau atasan yang benar-benar mengetahui cara berpikir dan cara kerja kandidat, dan bisa menyelipkan beberapa anekdot yang menarik untuk menggambarkan kesan baik mereka terhadap sang kandidat dengan cara yang personal, ketimbang hanya menuliskan pujian-pujian yang generik.

- TOEFL
Tergantung kemampuan masing-masing, TOEFL harus dipersiapkan dari jauh hari. Kalau kurang pede dengan kemampuan bahasa Inggris, ada banyak tempat yang menawarkan TOEFL-prep. Kalaupun kemampuan bahasa Inggris sang kandidat sudah sangat bagus, tetap harus ada persiapan dan latihan beberapa kali sebelum ujian untuk membiasakan diri dengan format, waktu, dan jenis pertanyaan dalam ujian. Setiap sekolah punya persyaratan TOEFL yang berbeda-beda, pastikan bahwa syarat minimum tersebut terpenuhi.

- IPK
Jangan mangkir apabila nilai IPK pada saat mengenyam S1 jauh dari cum laude. Hal-hal lain juga dipertimbangkan, seperti misalnya rangking di kelas, nilai pelajaran-pelajaran yang spesifik terhadap minat sang kandidat, penerimaan penghargaan mahasiswa berprestasi atau penghargaan dari dekan, atau penghargaan akademis lainnya seperti beasiswa, PMDK, menang pemilihan menjadi ketua organisasi, kompetisi akademis, program exchange student dan sebagainya, publikasi artikel, dan juga kegiatan ekstrakurikuler di kampus.

- Menurut saya pribadi, jangan kirim aplikasi hanya ke satu universitas, karena sayang dan tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang terbuang mempersiapkan aplikasi. Sekalian saja mengirim ke beberapa universitas untuk memperbesar kemungkinan diterima di salah satu sekolah.

Mempersiapkan aplikasi memang tidak mudah, dan membutuhkan sangat banyak waktu disela-sela kesibukan sehari-hari, dan oleh karena itu harus direncanakan dengan baik. Tulisan ini hanya merupakan ulasan secara umum yang tidak terlalu detil. Tentu saja kalau ada yang ingin bertanya lebih lanjut, akan dengan senang hati saya bantu semaksimal mungkin.

Kebanyakan siswa yang diterima di ivy league tidak percaya bahwa mereka bisa diterima, dan ketika menerima surat penerimaan berpikir bahwa surat itu adalah lelucon. Hal ini berarti bahwa keraguan bukanlah alasan untuk tidak mencoba. Yang penting ada keberanian mencoba, dan ada strategi dalam mempersiapkan aplikasi. Semakin banyak orang mencoba, semakin besar kemungkinan lebih banyak orang akan diterima. Semakin banyak orang yang menempuh pendidikan lebih tinggi dan lebih bagus, Insya Allah semakin besar kemungkinan bangsa kita maju.

Seorang teman saya yang tahun ini hendak berangkat ke Harvard baru saja mengirim tweet: “Some people say: democracy among idiots will result in idiotic leaders. It is then our obligation to educate ourselves.”
By : Tiza Mafira

Senin, 25 Juni 2012

EKONOMI BAHASA INGGRIS

EKONOMI BAHASA INGGRIS
Oleh: Rhenald Kasali (Guru Besar UI)
Jawa Pos

Tidak semua bangsa-bangsa yang maju bisa berbahasa Inggris, tetapi anehnya bangsa-bangsa yang maju itu punya ke-pede-an yang bagus. Jadi meski bahasa asing yang diterima secara internasional (misalnya bahasa Inggris) kurang bagus, mereka pede saja.

Di Harvard, saya banyak bertemu anak-anak muda yang TOEFL-nya di atas 600, tetapi kalau bicara, hmm,… susah juga saya mengerti apa yang mereka mau sampaikan. Tapi toh mereka pede aja. Yang saya sering bingung adalah orang-orang yang diajak bicara, tak jarang sama-sama susah dimengerti apa yang mau disampaikan. Inggris logat India bertemu logat Korea dan Meksiko, susahnya minta ampun untuk dimengerti. Tetapi mereka bisa tertawa-tawa bersama.

Saya pikir itu hanya saya saja yang tidak mengerti. Tetapi Prof. Michael Porter, Guru Besar senior di Harvard mengatakan hal yang sama kepada saya. Meski demikian, kita sebagai guru pantang mengintimidasi kemampuan bahasa seseorang. “Bahkan gesture kita saja tak boleh mengintimidasi,” ujarnya.

Makuto Naruto
Di Boulder – Colorado, 20 tahun yang lalu saat belajar bahasa Inggris, saya pernah diajak makan siang oleh seorang teman dari Jepang. Dia bertanya, mau tidak makan siang di Makuto Naruto. Penasaran dengan nama resto itu, saya pun mengikutinya. Ternyata itu Mc Donald’s. Begitu sampai di restoran saya pun terbahak-bahak dan kawan saya kebingungan tidak mengerti mengapa saya menertawakannya. Setelah dijelaskan ia pun tertawa sambil menggosok-gosok kepalanya. Orang Jepang kesulitan mengeja kata yang huruf penutupnya bukan huruf hidup, jadilah Mc Donald, Makuto Naruto.

Tetapi mengapa dengan bahasa Inggris pas-pasan seperti itu mereka bisa mengasai dunia dan ada di mana-mana? Mereka ada di seluruh sudut Eropa hingga ke Rusia dan eks Uni Soviet, di seluruh jagat Afrika, dan tentu saja di Asia. Bahkan jauh sebelum menduduki Indonesia, orang-orang tua kita bercerita, mereka sudah menjelajahi kampung demi kampung dengan membawa pikulan.

Kini kita juga menyaksikan orang-orang China dengan gelombang yang lebih besar lagi menjelajahi seluruh jagat raya. Sebelumnya orang-orang Korea dan India juga melakukan hal serupa. Tak semua imigran itu kaum sekolahan. Sebagian besar generasi pertama asal China dan India yang datang ke Amerika memang banyak didominasi oleh para penganggur yang berprofesi sebagai penjaga toko dan supir taksi.

Berkat Guangxi atau jejaring sosial, mereka survive dan memupuk modal. Orang-orang China perantauan ini membuka usaha restoran dengan menu dan desain yang sama direplikasi, dari uang arisan menyebar ke berbagai kota. Orang-orang Korea juga sama. Kalau tak bisa berbahasa Inggris juga tidak masalah. Mereka membuka usaha kecil yang membuka peluang untuk berbicara dengan konsumen sedikit mungkin. Mereka membuka usaha laundry yang dioperasikan secara otomatik.

Demikian juga orang-orang Eropa Timur. Mereka masuk ke Amerika dengan membuka losmen-losmen kecil di daerah pinggiran. Tidak bisa berbahasa Inggris tetapi pede aja. Hasilnya generasi kedua mereka menjadi global citizen.

Do You Have Brain
Kisah orang-orang Indonesia diperantauan ternyata juga ada. Di tepi danau Rocca Di Papa, dekat Roma-Italia, saya bertemu Dewi Francesca yang dulu menjadi pelayan restoran di Bali. Dewi kini menjadi pemilik kafe yang indah dan diminati para honeymooners. Apakah sejak dulu Dewi bisa berbahasa Itali? Ternyata tidak.

Di Amerika, orang-orang yang mempunyai usaha kecil juga bukan orang-orang yang berangkat dengan TOEFL score yang tinggi. Seorang ibu yang sukses memimpin sebuah usaha pernah saya temui di sebuah swalayan milik orang Korea dengan kata-kata yang aneh. Rupanya ia ingin membuat gulai otak untuk suaminya. Saat menanyakan pada petugas toko, ia bilang begini: “Sir, do you have brain?” Tentu saja petugas toko mendelik.

Saya jadi teringat dengan Tukul Arwana yang kosa kata bahasa inggrisnya semakin hari semakin banyak dan terlihat pandai. Apa rahasianya?

Belajar dari para perantau yang berhasil dan dari komedian yang cerdas, mungkin kita perlu berkaca dengan sistem pendidikan bahasa di sekolah-sekolah kita. Dulu saya belajar bahasa Inggris sejak SMP. Anak-anak sekarang sudah mulai belajar bahasa Inggris sejak kelas 1 SD. Bahkan ada yang dari TK. Jadi, masalahnya bukanlah kapan seseorang mulai belajar bahasa, melainkan apa yang diajarkan.

Setahu saya sekolah-sekolah kita, selalu fokus pada rumus, angka, dan rule. Bahkan yang diajarkan di bahasa adalah grammar dan pronounciation. Grammar itu penting, tetapi tanpa keberanian berbicara dan menulis, anak-anak kita tidak akan pergi ke mana-mana. Mereka bahkan bisa menjadi sangat takut berbicara, kala grammar-nya lupa, atau pronounciation-nya salah. Padahal, di dunia internasional keberanian untuk berbicara akan membuka masa depan seseorang. Orang-orang yang beranilah yang akan menguasai dunia. Yaitu berani salah selagi muda, tapi terus belajar mengoreksi diri. Yuk pupuk keberanianmu!

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
Tulisan ini gue dapat di suatu forum, karena menurut gue menarik, gue pengen ada di blog gue. Ini sangat menginspiratif. :)

Kamis, 08 September 2011

Jilbabku Ujianku

Marissa, remaja 13 tahun yang duduk di bangku kelas satu SMP. Enam bulan yang lalu, saat tahun ajaran baru orang tua marissa memasukkan Marissa ke SMP Negeri. Sedangkan teman-temannya masuk ke sekolah Madrasah. Marissa heran kenapa dia dimasukkan ke SMP, karena dia paham kalau orang tuanya punya landasan agama yang kuat. Rasa ingin tahunya yang kuat, Marissa menanyakan pada Uminya kenapa ia dimasukkan ke SMP. “Umi, kenapa aku masuk SMP? Sedangkan teman-teman aku masuk Madrasah,” Tanya Marissa. “ Umi bukan ga mau menyekolahkan kamu di Madrasah, tapi Umi tidak suka melihat kebanyakan anak-anak putrinya yang masih tidak pakai jilbab dalam kesehariannya. Ke sekolah pakai jilbab, sekolah selesai jilbabnya dilepas. Umi takut nanti kamu akan terpengaruh seperti itu,” Jawab sang Umi. Marissa mengangguk dan mengiyakan, memang seperti itu kenyataan yang ia lihat selama ini. Akan tetapi, yang Marissa tahu bahwa remaja putri di SMP umumnya juga tidak menggunakan jilbab. Enam bulan duduk di SMP, Marissa sudah mendapat Haid pertama kali. Marissa memberi tahu Uminya, beliau mengatakan kalau Marissa sudah baligh, jadi sudah wajib pakai jilbab. Marissa menggunakan jilbab sesuka hatinya. Saat itu, Marissa disuruh Uminya belanja ke pasar, tiba-tiba Umi memanggil Marissa dengan nada yang agak kuat. “Jilbabnya mana? Ayo jilbabnya dipakai,” sahut Umi. Marissa kesal dengan perintah Uminya. “Kan pasarnya deket,” gerutu Marissa. Beberapa ibu-ibu yang jualan heran melihat Marissa. Dia tidak percaya diri dilihat seperti itu karena Marissa biasanya tidak pakai jilbab. Bahkan ada ibu-ibu yang mengatakan kalau Marissa anak pesantren, Marissa makin kesal dengan perkataan itu. Saat di sekolah, teman-temannya pun ikut heran dengan perubahan Marissa. Akan tetapi, lama-kelamaan Marissa sudah biasa menggunakan jilbab dan teman-temannya juga sudah terbiasa dengan penampilan Marissa yang “baru”. Ternyata ujiannya bagi Marissa belum berhenti. Di sekolah, Marissa ditunjuk untuk ikut dalam tari selamat datang untuk menyambut bupati dalam acara yang diadakan oleh pemerintah kabupaten. Latihan sudah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya. Satu minggu sebelum hari H, pelatih dan guru Marissa memberi instruksi kepada semua anggota tari. Saat itu Marissa menanyakan kepada guru dan pelatih tentang kostum yang akan dipakai. Guru Marissa mengatakan bahwa kostumnya nanti diberi oleh pihak kabupaten dan nantinya akan pakai konde. Guru Marissa juga mengatakan kepada Marissa untuk tidak memakai jilbab. Marissa kaget dengan perkataan gurunya tersebut, karena dia sudah terbiasa menggunakan jilbab. Marissa meminta waktu kepada gurunya untuk berpikir mengenai hal itu. Marissa curhat kepada Umi dengan masalah yang ia hadapi. Umi menyarankan Marissa untuk berdoa kepada Allah meminta yang terbaik, saran dari Umi cukup menenangkan hati Marissa. Tiga hari menjelang tampil, guru dan pelatih mengatakan tim Marissa tidak jadi tampil karena pihak kabupaten sudah meminta dari sanggar tari lain untuk tampil. Marissa dan teman-temannya kecewa karena sudah latihan dengan keras tetapi tidak jadi tampil. Akan tetapi terbesit rasa senang di hati Marissa, “Inilah yang terbaik diberikan oleh Allah buat aku.” Saat acara perpisahan kelas tiga Marissa ditunjuk lagi untuk berpartisipasi dalam tari penyambutan tamu, akhirnya Marissa dan teman-temannya tampil menggunakan jilbab.

 (Created By Muthi)

Rabu, 17 Agustus 2011

Belajar dari mereka

Sebenarnya gue udah kepikiran sejak gue kagum pada mereka, kenapa mereka bisa sukses dimana pun mereka hidup. Tanpa sengaja gue dapat bacaan tentang itu, ini linknya http://www.ronywijaya.web.id/2011/07/mengapa-orang-cina-sukses-dan-kaya.html

Gue jadi ngerti bagaimana mereka berjuang dalam hidup mereka, gue juga terinspirasi dari prinsip-prinsip mereka yang menurut gue itu luar biasa. Gue jadi ingat hadist nabi Muhammad saw yang artinya "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina", gue jadi mikir ini artinya cina bisa menjadi salah satu panutan kita dalam melakukan hal-hal yang berguna.

Gue juga mau cerita tentang temen gue yang memiliki keturunan tionghoa, setelah gue baca artikel itu dan gue kaitkan dengan temen gue, ternyata emang bener seperti itu. Dalam artikel tersebut, kalau orang cina itu menghilangkan gengsi-gengsi mereka dalam mendapatkan sesuatu, mereka sangat hemat dan teliti, mereka sangat gigih dan bekerja keras, tidak mau melakukan hal-hal yang berguna, fokus dan jelas dengan apa yang mereka kerjakan, memiliki target tidak hanya jangka pendek tapi juga mereka telah menentukan target dalam jangka panjang. Mereka melakukan sesuatu tidak hanya untuk sekarang tapi juga untuk masa depan mereka. Jadi, kesimpulan gue adalah orang cina sudah mempersiapkan target-target yang akan mereka capai untuk masa depan, mereka berusaha bagaimana mereka bisa bertahan samapai masa yang akan datang.

Hal-hal inilah yang membuat gue kagum pada orang Cina (sebenarnya tidak hanya Cina, gue sangat mengagumi orang Jepang dan Korea yang menurut gue kemajuan yang dicapai oleh masyarakat tiga negara tersebut tidak terlepas dari usaha dan kerja keras mereka). Sekarang pikiran gue udah mulai terbuka dari apa yang gue lihat dan gue lakukan selama ini, gue banyak dapat pelajaran dari mereka. Disamping itu, kenapa gue lebih menyukai drama/film Jepang dan Korea, itu karena ada beberapa hal positif yang bisa gue ambil dari cerita tersebut.

Sebenernya gue ga mau kekaguman gue pada mereka hanya sebatas kagum saja, tapi gue pengen diri gue juga bisa seperti mereka dalam hal mencapai atau mengusahakan sesuatu. Gue bertekad untuk ke depan gue akan berusaha lebih baik lagi, gue akan bekerja lebih keras lagi mencapai apa yang gue inginkan. Sebenernya orang-orang terdekat gue (orang tua, keluarga, saudara, temen2) udah ngasih support ke gue untuk mencapai apa yang gue inginkan. Tergantung bagaimana diri gue dan sikap gue dalam mencapainya. Apalagi yang gue tunggu, hanya hambatan dalam diri gue yang harus gue lawan. Orang lain bisa, gue juga pasti bisa.. fighting!!! がんぼってください ^_^



Selasa, 09 Agustus 2011

new journey

Saat ini aku sedang menjalani perjalanan hidupku yang masih panjang, banyak harapan dan target yang belum aku capai. Ini disebabkan oleh arah dan tujuan hidupku yang belum clear dan spesifik. Target itu harus segera diusahakan karena kalau tidak aku hanya seorang manusia yang belum berguna bagi diri sendiri, apalagi untuk orang lain. Semua rencana yang telah dibuat tidak akan menghasilkan apa-apa jika aku tidak berusaha mencapainya. Waktu yang terus berjalan tidak boleh aku lalui saja dengan percuma tanpa melakukan sesuatu. Kalau aku terus mengulur waktu, menunda-nunda semua rencana itu tidak akan berhasil. Do the best.. fighting!!!! daebakk!!!

Kamis, 04 Agustus 2011

Heartstring (you've fallen for me)

Heartstring adalah salah satu drama yang sedang airing di Korea, drama tentang musikal, romance ini sangat menarik bagiku. Drama ini dibintangi oleh aktor dan artis korea yang paling aku suka, Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye, i really like them. Aku udah ga sabar nih nunggu kelanjutan ceritanya, apalagi konflik yang akan dihadapi Lee Shin(Jung Yong Hwa) dan Gyu Won( Park Shin Hye). Aku berharap akhir drama ini happy ending, hahaha.. dan sepertinya bakalan happy ending nih..

Selasa, 17 Mei 2011

Japan Educational Seminar in Indonesia


   Tanggal 14 Mei 2011, aku dan Dratia eka fajarani pergi mengikuti acara seminar ¨Japan Educational Seminar¨ di univ. al Azhar Jakarta. Saat yang bersamaan juga ada acara FPP, acara FPP ini aku masuk kedalam bph(badan pengurus harian), tapi karena aku lebih tertarik di seminar ini maka aku kabur dengan terhormat, yang artinya sudah disetujui oleh kak ana (wakil ketua panitia). Mungkin memang aku bukan orang yang bertanggung jawab, tapi aku lebih butuh acara JES ini untuk masa depanku. 
Acaranya terdiri dari pengenalan belajar di Jepang untuk program kelas internasional dan simulasi dosen dalam mengajar di kelas internasional ini. Acara ini diisi oleh 13 universitas yang ada di Jepang. Disana stand-stand dari universitas tersebut memberikan informasi mengenai universitas mereka. Umumnya yang memberikan informasi tersebut adalah profersor dan para stafnya yang secara langsung memberi informasi. Tentu saja tidak ada yang bisa menggunakan bahasa indonesia. Stand yang pertama kita kunjungi adalah Tohuku University, Nagoya University, Kyoto university, Doshisa University, Chiba University, Japan Embassy. 
Pengalaman yang menarik adalah saat kita di stand kyoto university karena salah seorang dosen tersebut memiliki wajah Indonesia tapi tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan yang paling menarik lagi adalah saat kita di stand Doshisa University, karena salah satu dari dosen Doshisa university menawarkan kita untuk menanyakan hal-hal yang ingin kita ketahui ¨anything¨ kata beliau. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata, saya dan tia menanyakan tentang beasiswa, bagaimana mendapatkan beasiswa, dan sesuatu yang ingin diketahui, termasuk kenapa bapak tersebut bisa berbahasa indonesia, dan ternyata beliau sudah pernah tinggal di Indonesia selama 4 tahun dan bekerja di dubes Jepang. Dan kesalahan yang sangat tidak lucu itu adalah kita tidak menanyakan siapa nama beliau. Bapak itu juga menanyakan dimana kita kuliah, dan tujuan studi ke Jepang itu untuk S1 atau melanjutkan S2. Dan kita juga menanyakan bagaimana cara mendapatkan beasiswa untuk studi ke Jepang. Saya menceritakan studi saya sekarang ini di kesehatan masyarakat dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja, lalu dosen tersebut mengatakan bahwa itu sangat bagus, jurusan tersebut banyak dibutuhkan di Jepang tapi dari stand yang kita kunjungi hanya 1 universitas (Tohuku) kalo ada yang jurusan K3. Itupun saya dapat keterangan karena yang ada di stand tersebut ada ibu yang berasal dari Indonesia sedangkan menurut saya universitas yang lain itu mungkin ada tapi bukan K3 nama jurusannya, mudah-mudahan saya mendapat jurusan apa yang saya inginkan. Menurut saya bapak tersebut sangat baik kepada kita, mau meluangkan waktunya untuk mengobrol dengan kita dalam waktu yang cukup lama. Saat kita mengobrol, datanglah wartawan The Daily Jakarta Shimbun, wartawan tersebut sangat ramah sekali, dan sangat charming, bahkan saya dan tia terpesona melihat wajah dan senyum yang manis dari wartawan tersebut. Wartawan tersebut cukup lama mewawancarai sang bapak. Saat ryosuke( nama wartawan tersebut) mewawancarai sang bapak, kita melirik-lirik data wartawan tersebut. Golongan darahnya AB, bekerja di Indonesia sampai 2012, dan yang lebih parah kita menghafalkan nomor wartawan tersebut , hhaa sampai segitunya. Tapi saya akui baru kali ini saya ketemu orang jepang dengan wajah yang menarik dan cute banget wwaaa... Lanjut ke percakapan bapak tadi, saat bapak tahu kalo kita dari UI, beliau dengan spontan menjawab ¨ooh, pintar sekali dong¨, saat beliau bertugas di embassy, beliau sering berkunjung ke UI. Dan beliau juga menanyakan apakah kita bisa berbahasa Jepang, aku jawab iya tapi sedikit, karena aku pernah belajar bahasa Jepang saat High school. And, beliau meminta saya untuk perkenalan menggunakan bahasa Jepang, awalnya aku malu-malu, dan bapak itu mengatakan bahwa tidak usah malu-malu. Dan akhirnya aku memperkenalkan diri menggunakan bahasa Jepang, saat yang bersamaan wartawan tersebut masih di tempat kita berbincang-bincang. Dia memperhatikan saat aku memperkenalkan diri. Dan menurut aku, kakak wartawan itu mengerti bahasa Indonesia tapi cannot speak. Setelah beberapa saat, karena tidak ada topik yang dibicarakan lagi maka kita berpamitan. Tapi sebelum itu, dengan memberanikan diri aku meminta alamat email atau kontak yang bisa berkomunikasi dengan bapak tersebut. Lalu beliau memberi kartu namanya pada kita, senangnya, Bapaknya baik sekali. Dan yang sangat kita sayangkan adalah kita tidak sempat berfoto dengan bapak atupun wartawan tersebut. Dan pesan bapak yang saya ingat dari beliau adalah yang paling penting adalah bahasa Inggris harus maksimal. Saya sangat senang dengan acara ini selain bertemu langsung dengan orang Jepang dan bekerja di universitas tersebut, kita juga harus menyadari bahwa bahasa tersebut sangat penting. Semoga saya bisa bertemu dengan bapak dosen itu lagi.
 
Copyright my life 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .