RSS

Kamis, 08 September 2011

Jilbabku Ujianku

Marissa, remaja 13 tahun yang duduk di bangku kelas satu SMP. Enam bulan yang lalu, saat tahun ajaran baru orang tua marissa memasukkan Marissa ke SMP Negeri. Sedangkan teman-temannya masuk ke sekolah Madrasah. Marissa heran kenapa dia dimasukkan ke SMP, karena dia paham kalau orang tuanya punya landasan agama yang kuat. Rasa ingin tahunya yang kuat, Marissa menanyakan pada Uminya kenapa ia dimasukkan ke SMP. “Umi, kenapa aku masuk SMP? Sedangkan teman-teman aku masuk Madrasah,” Tanya Marissa. “ Umi bukan ga mau menyekolahkan kamu di Madrasah, tapi Umi tidak suka melihat kebanyakan anak-anak putrinya yang masih tidak pakai jilbab dalam kesehariannya. Ke sekolah pakai jilbab, sekolah selesai jilbabnya dilepas. Umi takut nanti kamu akan terpengaruh seperti itu,” Jawab sang Umi. Marissa mengangguk dan mengiyakan, memang seperti itu kenyataan yang ia lihat selama ini. Akan tetapi, yang Marissa tahu bahwa remaja putri di SMP umumnya juga tidak menggunakan jilbab. Enam bulan duduk di SMP, Marissa sudah mendapat Haid pertama kali. Marissa memberi tahu Uminya, beliau mengatakan kalau Marissa sudah baligh, jadi sudah wajib pakai jilbab. Marissa menggunakan jilbab sesuka hatinya. Saat itu, Marissa disuruh Uminya belanja ke pasar, tiba-tiba Umi memanggil Marissa dengan nada yang agak kuat. “Jilbabnya mana? Ayo jilbabnya dipakai,” sahut Umi. Marissa kesal dengan perintah Uminya. “Kan pasarnya deket,” gerutu Marissa. Beberapa ibu-ibu yang jualan heran melihat Marissa. Dia tidak percaya diri dilihat seperti itu karena Marissa biasanya tidak pakai jilbab. Bahkan ada ibu-ibu yang mengatakan kalau Marissa anak pesantren, Marissa makin kesal dengan perkataan itu. Saat di sekolah, teman-temannya pun ikut heran dengan perubahan Marissa. Akan tetapi, lama-kelamaan Marissa sudah biasa menggunakan jilbab dan teman-temannya juga sudah terbiasa dengan penampilan Marissa yang “baru”. Ternyata ujiannya bagi Marissa belum berhenti. Di sekolah, Marissa ditunjuk untuk ikut dalam tari selamat datang untuk menyambut bupati dalam acara yang diadakan oleh pemerintah kabupaten. Latihan sudah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya. Satu minggu sebelum hari H, pelatih dan guru Marissa memberi instruksi kepada semua anggota tari. Saat itu Marissa menanyakan kepada guru dan pelatih tentang kostum yang akan dipakai. Guru Marissa mengatakan bahwa kostumnya nanti diberi oleh pihak kabupaten dan nantinya akan pakai konde. Guru Marissa juga mengatakan kepada Marissa untuk tidak memakai jilbab. Marissa kaget dengan perkataan gurunya tersebut, karena dia sudah terbiasa menggunakan jilbab. Marissa meminta waktu kepada gurunya untuk berpikir mengenai hal itu. Marissa curhat kepada Umi dengan masalah yang ia hadapi. Umi menyarankan Marissa untuk berdoa kepada Allah meminta yang terbaik, saran dari Umi cukup menenangkan hati Marissa. Tiga hari menjelang tampil, guru dan pelatih mengatakan tim Marissa tidak jadi tampil karena pihak kabupaten sudah meminta dari sanggar tari lain untuk tampil. Marissa dan teman-temannya kecewa karena sudah latihan dengan keras tetapi tidak jadi tampil. Akan tetapi terbesit rasa senang di hati Marissa, “Inilah yang terbaik diberikan oleh Allah buat aku.” Saat acara perpisahan kelas tiga Marissa ditunjuk lagi untuk berpartisipasi dalam tari penyambutan tamu, akhirnya Marissa dan teman-temannya tampil menggunakan jilbab.

 (Created By Muthi)
 
Copyright my life 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .