Tanggal 14 Mei 2011, aku dan Dratia eka fajarani pergi mengikuti acara seminar ¨Japan Educational Seminar¨ di univ. al Azhar Jakarta. Saat yang bersamaan juga ada acara FPP, acara FPP ini aku masuk kedalam bph(badan pengurus harian), tapi karena aku lebih tertarik di seminar ini maka aku kabur dengan terhormat, yang artinya sudah disetujui oleh kak ana (wakil ketua panitia). Mungkin memang aku bukan orang yang bertanggung jawab, tapi aku lebih butuh acara JES ini untuk masa depanku.
Acaranya terdiri dari pengenalan belajar di Jepang untuk program kelas internasional dan simulasi dosen dalam mengajar di kelas internasional ini. Acara ini diisi oleh 13 universitas yang ada di Jepang. Disana stand-stand dari universitas tersebut memberikan informasi mengenai universitas mereka. Umumnya yang memberikan informasi tersebut adalah profersor dan para stafnya yang secara langsung memberi informasi. Tentu saja tidak ada yang bisa menggunakan bahasa indonesia. Stand yang pertama kita kunjungi adalah Tohuku University, Nagoya University, Kyoto university, Doshisa University, Chiba University, Japan Embassy.
Pengalaman yang menarik adalah saat kita di stand kyoto university karena salah seorang dosen tersebut memiliki wajah Indonesia tapi tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan yang paling menarik lagi adalah saat kita di stand Doshisa University, karena salah satu dari dosen Doshisa university menawarkan kita untuk menanyakan hal-hal yang ingin kita ketahui ¨anything¨ kata beliau. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata, saya dan tia menanyakan tentang beasiswa, bagaimana mendapatkan beasiswa, dan sesuatu yang ingin diketahui, termasuk kenapa bapak tersebut bisa berbahasa indonesia, dan ternyata beliau sudah pernah tinggal di Indonesia selama 4 tahun dan bekerja di dubes Jepang. Dan kesalahan yang sangat tidak lucu itu adalah kita tidak menanyakan siapa nama beliau. Bapak itu juga menanyakan dimana kita kuliah, dan tujuan studi ke Jepang itu untuk S1 atau melanjutkan S2. Dan kita juga menanyakan bagaimana cara mendapatkan beasiswa untuk studi ke Jepang. Saya menceritakan studi saya sekarang ini di kesehatan masyarakat dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja, lalu dosen tersebut mengatakan bahwa itu sangat bagus, jurusan tersebut banyak dibutuhkan di Jepang tapi dari stand yang kita kunjungi hanya 1 universitas (Tohuku) kalo ada yang jurusan K3. Itupun saya dapat keterangan karena yang ada di stand tersebut ada ibu yang berasal dari Indonesia sedangkan menurut saya universitas yang lain itu mungkin ada tapi bukan K3 nama jurusannya, mudah-mudahan saya mendapat jurusan apa yang saya inginkan. Menurut saya bapak tersebut sangat baik kepada kita, mau meluangkan waktunya untuk mengobrol dengan kita dalam waktu yang cukup lama. Saat kita mengobrol, datanglah wartawan The Daily Jakarta Shimbun, wartawan tersebut sangat ramah sekali, dan sangat charming, bahkan saya dan tia terpesona melihat wajah dan senyum yang manis dari wartawan tersebut. Wartawan tersebut cukup lama mewawancarai sang bapak. Saat ryosuke( nama wartawan tersebut) mewawancarai sang bapak, kita melirik-lirik data wartawan tersebut. Golongan darahnya AB, bekerja di Indonesia sampai 2012, dan yang lebih parah kita menghafalkan nomor wartawan tersebut , hhaa sampai segitunya. Tapi saya akui baru kali ini saya ketemu orang jepang dengan wajah yang menarik dan cute banget wwaaa... Lanjut ke percakapan bapak tadi, saat bapak tahu kalo kita dari UI, beliau dengan spontan menjawab ¨ooh, pintar sekali dong¨, saat beliau bertugas di embassy, beliau sering berkunjung ke UI. Dan beliau juga menanyakan apakah kita bisa berbahasa Jepang, aku jawab iya tapi sedikit, karena aku pernah belajar bahasa Jepang saat High school. And, beliau meminta saya untuk perkenalan menggunakan bahasa Jepang, awalnya aku malu-malu, dan bapak itu mengatakan bahwa tidak usah malu-malu. Dan akhirnya aku memperkenalkan diri menggunakan bahasa Jepang, saat yang bersamaan wartawan tersebut masih di tempat kita berbincang-bincang. Dia memperhatikan saat aku memperkenalkan diri. Dan menurut aku, kakak wartawan itu mengerti bahasa Indonesia tapi cannot speak. Setelah beberapa saat, karena tidak ada topik yang dibicarakan lagi maka kita berpamitan. Tapi sebelum itu, dengan memberanikan diri aku meminta alamat email atau kontak yang bisa berkomunikasi dengan bapak tersebut. Lalu beliau memberi kartu namanya pada kita, senangnya, Bapaknya baik sekali. Dan yang sangat kita sayangkan adalah kita tidak sempat berfoto dengan bapak atupun wartawan tersebut. Dan pesan bapak yang saya ingat dari beliau adalah yang paling penting adalah bahasa Inggris harus maksimal. Saya sangat senang dengan acara ini selain bertemu langsung dengan orang Jepang dan bekerja di universitas tersebut, kita juga harus menyadari bahwa bahasa tersebut sangat penting. Semoga saya bisa bertemu dengan bapak dosen itu lagi.
